
Pada pertengahan Mei tahun ini, hasil Medical Check Up (MCU) saya memicu perhatian yang serius. Salah satu indikator yang menunjukkan kekhawatiran adalah angka Trigliserida yang sangat tinggi. Batas normal Trigliserida seharusnya berada di bawah 150, namun nilai saya mencapai 311. Selain itu, hasil tes HBA1C yang menunjukkan rata-rata gula darah dalam tiga bulan terakhir juga cukup tinggi, sehingga saya masuk kategori prediabet.
Dokter spesialis penyakit dalam yang saya temui pada pertengahan Mei memberikan penjelasan bahwa Low Density Lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat saya bernilai 122. Meskipun sedikit melebihi batas optimal yang sebaiknya kurang dari 100, nilai Trigliserida yang tinggi menunjukkan bahwa selama ini saya mengonsumsi kalori berlebihan. Ia menyarankan agar saya mengurangi konsumsi karbohidrat, tepung-tepungan, dan makanan gorengan.
Setelah sesi konsultasi berakhir, saya langsung pergi ke bagian farmasi untuk mengambil resep obat. Setelah mengantri selama dua jam, nama saya akhirnya dipanggil. Dari sana, cerita tentang hidup sehat tanpa nasi dan karbohidrat lainnya dimulai.
Awal Bulan Mei, saya sudah mulai rutin berolahraga setiap hari. Kebetulan dua teman saya juga sedang menerapkan gaya hidup lebih sehat. Awalnya hanya merasa badan agak berat, namun hasil MCU yang mengejutkan membuktikan bahwa sinyal tersebut benar-benar valid.
Setelah konsultasi dengan dokter, keesokan harinya saya langsung pergi ke Pasar Kranggan. Dalam situasi ekonomi yang tidak stabil, saya ingin hidup sehat tetapi tetap terjangkau dan mudah diakses. Saya percaya bahwa hidup sehat harus bisa bertahan lama, bukan hanya berlangsung singkat lalu berhenti karena lelah.
Pagi itu, sekitar pukul 07.30, saya sampai di kios langganan yang menyediakan aneka bahan salad dengan harga terjangkau. Pemilik kios menawarkan beberapa sayuran segar yang baru saja dikeluarkan dari karung. Beberapa sayuran pilihan seperti lettuce, romaine, paprika, daun basil, tomat ceri, dan rosemary langsung ditimbang. Saat itu, hanya saya satu-satunya pembeli pagi hari.
Setelah selesai berbelanja, saya melanjutkan perjalanan ke pintu belakang pasar, tempat ada penjual jamur kancing dan buah kolang-kaling langganan. Jika beruntung, saya juga bisa menemukan buah ciplukan yang langka. Buah ini menjadi pengingat akan masa kecil saya.
Sesampainya di rumah, saya langsung membersihkan semua belanjaan. Setelah dicuci dan ditiriskan, sayuran hijau saya potong dan dibagi dalam beberapa porsi. Jika lapar tiba-tiba mendera, saya bisa langsung melahapnya.
Beberapa bulan makan salad buatan sendiri ternyata memiliki efek positif pada tubuh saya. Selain rasanya lebih sesuai dengan selera pribadi, konsumsi serat yang cukup membuat BAB jadi lebih rutin dan mudah. Badan juga terasa lebih ringan dari sebelumnya.
Tanpa Nasi, Karbo Lain Pun Jadi
Sejak mengetahui bahwa saya kebanyakan konsumsi kalori, saya mulai mengikuti saran dokter dengan mengurangi gorengan, tepung-tepungan, dan nasi. Awalnya agak kaget karena harus berpisah dengan cilok dan mie ayam. Tapi demi kesehatan dan masa depan, meski pelan-pelan, konsumsi keduanya bisa saya turunkan. Sekarang jatah cilok dan mi masih ada, tapi frekuensinya jauh lebih sedikit dari biasanya.
Khusus untuk konsumsi karbohidrat harian, saya mulai mencari alternatif sumber energi selain nasi. Indonesia memang kaya akan keanekaragaman tanaman pangan. Posisi keanekaragaman hayati kita menduduki peringkat kedua di dunia setelah Brazil. Jadi, mengurangi konsumsi nasi bukanlah hal yang mustahil. Cukup sesekali beralih ke sumber karbohidrat dengan indeks glikemik lebih rendah dari nasi.
Kebetulan, saat ini saya tinggal di desa. Akses untuk mendapatkan berbagai sumber karbohidrat selain nasi cukup mudah. Selama setahun terakhir, ibu saya pun mulai mengonsumsi umbi-umbian seperti uwi, mbolo, garut hingga gembili kukus.
Setelah menjalani endoskopi syaraf, ibu diminta untuk menurunkan berat badan agar nyeri pinggangnya hilang. Ada benang merah antara kebutuhan ibu dan saya untuk mengatur pola makan yang lebih baik. Salah satunya dengan mengontrol konsumsi karbohidrat. Jadilah, ngukus umbi-umbian menjadi jalan ninja kami untuk mengatur pola makan yang lebih seimbang.
Menariknya, umbi-umbian ini ternyata cocok disajikan dengan berbagai masakan khas nusantara! Tiwul dimakan pakai gudangan dan mangut lele terasa enak. Umbi garut dikonsumsi bersama ikan tuna dan sayur lodeh juga enak. Bahkan gembili yang dipasangkan dengan jangan bung (sayur bambu muda), sambal teri, dan telur asin rasanya sangat menggugah selera.
Enam bulan merotasi sumber karbohidrat selain nasi ternyata tidak membuat saya lemas. Selain tetap berenergi, saya malah dapat bonus tidak mengantuk setelah makan. Seperti keterusan karena terlanjut nyaman. Plus, saya mendapat rapor baik dari segi kesehatan. Tes darah terakhir menunjukkan bahwa gula darah saya kini normal. Asam Urat juga turun dari 5,8 menjadi 4 saja. Nilai Trigliserida saya yang awalnya 311 kini menjadi 108. Alhamdulillah.
Diimbangi dengan Olahraga Ringan
Sejak hari konsultasi itu, saya berjanji pada diri sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih aktif lagi. Untuk mengurangi timbunan kalori di dalam tubuh, saya mulai mengoptimalkan aktivitas olahraga yang ringan, mudah, dan murah. Dalam hal ini, saya memilih kombinasi kardio dan angkat beban.
Mulai Mei tahun ini, saya mulai rajin jalan pagi. Dimulai dari putar lapangan sebanyak 5 kali, lalu berlanjut hingga 10 kali, dan kini bisa kuat sampai 15 kali putaran. Kadang saat jalan cepat saya selipkan dengan lari tipis-tipis. Soalnya, jika hanya jalan saja, saya merasa kurang maksimal.
“Dok, kalau jalan kaki tidak bikin tidur saya senyenyak sebelumnya. Bagaimana cara mengatasinya?”, tanya saya pada sesi konsultasi ke-6 Oktober lalu.
“Kalau begitu, tingkatkan intensitas olahraga kamu. Nanti jalan cepat bisa sesekali diselingi lari. Tapi larinya pelan-pelan dulu. Sesuaikan dengan kemampuan.”
Selain jalan cepat dan lari tipis-tipis, kini saya juga mengimbangi rutinitas olahraga dengan angkat beban 2 kilogram. Awalnya saya mulai dengan gerakan sederhana yang saya adaptasi dari video di YouTube. Kini, dalam sehari saya bisa melakukan squad dan deadlift hingga puluhan kali.
Senang rasanya bisa sampai ke tahap ini. Selain badan jadi enteng, kombinasi kardio dan angkat beban terbukti meningkatkan daya tahan tubuh saya. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, ketika ibu dan bapak mengalami batuk hingga tiga minggu lamanya, saya tidak tertular barang sehari saja. “Proud of me!”, batin saya berulang kali saat mengingat momen manis ini.
Ternyata dari sepiring cerita, efeknya bisa merembet kemana-mana ya? Termasuk pada perbaikan kondisi kesehatan dan kualitas hidup kita. Saya yakin bahwa Indonesia emas akan lebih mudah digapai dengan dukungan masyarakat luas yang sehat dan kuat.
Salam hangat dari Jogja,
-Retno-
Berkomentarlah dengan bijak, bagi yang memberikan link aktif akan langsung hapus. Terima Kasih