Bukan Bahan Bakar Jerami, Ini Pilihan Pertamina dan Pemerintah Muhammad Ikhlas Thamrin

Erlita Irmania
0

Inovasi Energi Terbarukan di Indonesia

Inovasi energi terbarukan alternatif seperti Bobibos (Bahan Bakar Original Indonesia Bos) alias bahan bakar jerami membuat pembahasan soal ketahanan energi jadi sorotan. Sebenarnya, Bobibos alias bahan bakar jerami bukan satu-satunya inovasi energi terbarukan. Ada lagi yang namanya Bioethanol Aren.

Dibanding Bobibos bahan bakar jerami temuan Muhammad Ikhlas Thamrin, Bioethanol Aren telah dipilih Pertamina dan pemerintah untuk dikembangkan. Bahan bakar alternatif ini bahkan dinyatakan telah ikut dikembangkan Pertamina. Kementerian Kehutanan (Kemenhut) diketahui telah meresmikan Pilot Bioethanol Aren di Pertamina Geothermal Energy (PGE) Kamojang, Garut, Jawa Barat.

Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menyebut peresmian tersebut merupakan tonggak penting dalam mempercepat pengembangan bioenergi hijau berbasis aren yang sejalan dengan agenda transisi energi pemerintah. “Dengan produktivitasnya yang tinggi dan ketersediaannya yang stabil, aren dapat menjadi salah satu pilar pemenuhan kebutuhan bioetanol nasional. Ketika nilai ekonominya meningkat, masyarakat akan memiliki insentif kuat menjaga tutupan hutan dan mencegah alih fungsi lahan,” ungkap Raja Juli, dalam keterangannya, Rabu (19/11/2025).

Aren adalah salah satu komoditas paling potensial untuk menopang kebutuhan bioetanol nasional, karena bisa tumbuh baik hutan ataupun lereng. Ia menjelaskan, proses produksi bioetanol aren mulai dari penyadapan nira, pengolahan, hingga menjadi produk bioetanol. Campuran bahan bakar nabati itu siap diuji dan dimanfaatkan masyarakat.

Raja Juli menyatakan, pilot bioetanol aren bukan sekadar proyek teknis, melainkan bukti bahwa kekayaan hutan Indonesia mampu menjadi energi bersih yang bernilai ekonomi tinggi bagi masyarakat. "Terima kasih kepada teman-teman semua yang sudah bekerja sama membantu. Langkah besar bahwa kekayaan hutan Indonesia dapat menghasilkan energi bersih yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” kata dia.

Aren sendiri disebut telah menarik perhatian Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi campuran bahan bakar. Sebab, ketahanan energi menjadi salah satu program penting pemerintah. "Pak Presiden cukup clear menyampaikan cita-cita beliau tentang pentingnya ketahanan energi. Geopolitik yang semakin tidak stabil pada ujungnya bila terjadi yang tidak diinginkan oleh kita bersama pada akhirnya masing-masing bangsa akan berpikir untuk dirinya sendiri," jelas Raja Juli.

Inovasi ini memanfaatkan nira aren sebagai bahan baku, dengan kapasitas produksi sekitar 300 liter bioetanol per hari dan 300-500 kilogram nira aren per hari. 1 hektare lahan aren dapat menghasilkan 24 ribu liter etanol per tahun. Nira aren yang digunakan berasal dari hutan aren yang dikelola oleh Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Baru Bojong di Desa Bojong, Garut. Program itu bekerja sama dengan Pertamina, Pertamina New & Renewable Energy, Pertamina Geothermal Energy, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan tim percepatan aren yang dipimpin Penasehat Utama Menhut.

"Untuk pengembangan bioetanol, Pertamina melakukan riset terhadap berbagai tanaman untuk dijadikan bahan baku, salah satunya adalah aren. Aren merupakan salah satu tanaman yang memiliki potensi besar untuk dibudidayakan secara luas di Indonesia," kata Direktur Utama Pertamina NRE, John Anis.

Bobibos Siap Diuji Teknis

Seperti diketahui, saat ini publik sedang dihebohkan dengan Bobibos yang dikembangkan Muhammad Ikhlas Thamrin asal Desa Jonggol, Bogor, Jawa Barat. Bobibos adalah singkatan dari ‘Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos’ sebuah produk bahan bakar nabati yang diklaim dibuat dari tanaman lokal dan dipromosikan memiliki emisi sangat rendah serta angka oktan tinggi setara RON 98.

Founder Bahan Bakar Original Buatan Indonesia (Bobibos) M. Ikhlas Thamrin menilai langkah Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) yang meneruskan pembahasan uji coba dan proses perizinan kepada Ditjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) sebagai tahap penting dalam memastikan standar teknis serta legalitas produk dapat terpenuhi. Ikhlas menyatakan pihaknya siap mengikuti seluruh arahan dan prosedur yang ditetapkan regulator.

“Tentu kita akan mengikuti arahan dari EBTKE dan kita tentunya harus mengikuti tahapan-tahapan yang memang sudah ditentukan dan disepakati oleh EBTKE,” ujarnya, Kamis (20/11/2025).

Bobibos adalah produk yang dikembangkan dari bahan alami seperti jerami dan biomassa tanaman. Bobibos dirancang sebagai bahan bakar alternatif pengganti bensin dan solar, dengan klaim memiliki angka oktan tinggi (RON mendekati 98) serta emisi yang sangat rendah. Saat ini Bobibos masih dalam tahap uji coba dan proses perizinan di bawah Kementerian ESDM. Produk ini belum dipasarkan secara massal karena harus melewati serangkaian pengujian teknis, mulai dari laboratorium hingga uji jalan.

Ikhlas menjelaskan bahwa Bobibos memiliki dua jenis produk yang tengah dipersiapkan. Untuk produk berbahan bakar pengganti bensin, pihaknya cenderung menggunakan istilah biogasoline. Sementara untuk produk kedua yang bertujuan jadi bahan bakar pengganti solar, pihaknya masih berdiskusi dengan tim EBTKE mengenai istilah yang paling tepat.

“Bobibos ini karena memiliki dua produk, maka produk yang pertama disebut sebagai biogasoline ya. Jadi Bobibos disebut sebagai biogasoline,” katanya.

Ia menambahkan, penentuan istilah dan klasifikasi sangat berkaitan dengan proses penyusunan standar teknis yang menjadi dasar pengujian. Sebab, saat ini belum ada template parameter untuk biogasoline. Ikhlas menilai diperlukan forum diskusi yang melibatkan banyak pemangku kepentingan seperti produsen mesin, regulator, peneliti kampus, dan pengembang teknologi.

“Karena template parameter biogasoline ini belum ada, sehingga untuk menentukan parameter-parameter ini perlu diadakan komunikasi teknis atau semacam FGD dengan beragam stakeholder,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ikhlas mengatakan parameter yang dihasilkan dari diskusi itu juga akan menjadi acuan utama dalam menyusun metode uji yang akan dijalankan. “Ketika parameter ini sudah ditetapkan, tentu lanjutannya adalah metode uji. Nanti Bobibos akan mengikuti tahapan-tahapan metode uji yang sudah ditetapkan hingga dikeluarkan legalisasi dari EBTKE,” kata dia.

Sebagai informasi, Muhammad Ikhlas Thamrin dan timnya melakukan riset selama 10 tahun untuk mengembangkan Bobibos. Bobios dibuat dari dari jerami atau berbagai tanaman yang mudah tumbuh di banyak wilayah Indonesia, termasuk di lahan persawahan. Dengan RON mendekati 98, Bobibos disebut bisa menempuh jarak lebih jauh dibandingkan bahan bakar solar konvensional saat ini.

10 Tahun Riset Mandiri, Bobibos Masih Perlu Lewati Banyak Pintu

Muhammad Ikhlas Thamrin menciptakan Bobibos dilatarbelakangi oleh keresahannya pada tingginya ketergantungan Indonesia terhadap energi impor. Ia ingin membuktikan Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri melalui ilmu pengetahuan dan riset mandiri. Lantas siapa sosok Muhammad Ikhlas Thamrin lebih jauh?

Muhammad Ikhlas Thamrin adalah alumni Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo angkatan 2001. Selama kuliah, Muhammad Ikhlas Thamrin mengaku sangat sering mengikuti demonstrasi untuk mengkritisi sumber energi di Indonesia. “Saya ingat betul pernah berdemo di Jakarta untuk menolak kenaikan harga BBM. Namun, setelah lulus saya mulai berpikir apa yang dapat saya lakukan untuk memberi solusi perihal energi,” ujar Muhammad Ikhlas Thamrin dikutip dari situs resmi UNS, Rabu (12/11/2025).

Pada kesempatan lain, Ikhlas Thamrin menyebut diperlukan bahan baku jerami yang “kira-kira 9 ton untuk produksi Bobibos sebanyak sekitar 3.000 liter, Jumlah bahan baku itu menurutnya setara dengan limbah dari satu hektar sawah padi. Limbah batang kering tersebut kemudian diproses menggunakan mesin dan serum yang dikembangkan oleh timnya.

Ikhlas, yang juga menjabat sebagai CEO PT Inti Sinergi Formula, optimistis Bobibos bisa diproduksi di seluruh Indonesia, mengingat luasnya lahan padi nasional. Ia bahkan menargetkan bahwa harga jual kedua varian bahan bakar tersebut dapat diseragamkan dan, dalam jangka panjang, berpotensi berada di bawah Rp 10.000 per liter.

Dukungan terhadap upaya ini datang pula dari Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, yang sempat mencoba performa Bobibos pada mesin traktor di Lembur Pakuan, Subang, dan menawarkan pasokan jerami dari 1.200 hektar sawah sebagai bahan baku. Saat ini, produksi massal Bobibos masih menunggu izin pemerintah, sedangkan 3.000 liter produksi awal telah digunakan dalam uji coba terbatas di wilayah Jonggol.

Sebenarnya, jauh sebelum dikenal sebagai penemu Bobibos bahan bakar jerami, Muhammad Ikhlas Thamrin sudah lebih dulu menciptakan kompor pulsa pada 2015. Namun, nasib kompor pulsa yang Muhammad Ikhlas Thamrin cipitakan ini tak setenar Bobibos bahan bakar jerami.

Dikutip dari berbagai sumber, peeemuan kompor pulsa itu bermula dari keresahannya yang mencari solusi untuk permasalahan energi. Begitu lulus kuliah pada 2025, Muhammad Ikhlas Thamrin pun mulai mencari solusi. Lalu pada 2007 Muhammad Ikhlas Thamrin memulai riset tentang energi bersama timnya. Ia berpendapat energi di Indonesia berpotensi langka dan mahal karena belum memanfaatkan energi terbarukan terlebih yang saat ini digunakan belum ramah lingkungan.

Pada 2007, Muhammad Ikhlas Thamrin memulai riset tentang energi bersama timnya. Delapan tahun kemudian atau pada 2015, ia mendirikan PT Baterai Freeneg Generasi. Hasil dari riset yang dilakukannya melahirkan sebuah solusi energi berbasis pulsa berupa kompor dan motor. Kala itu, patennya telah diuji oleh International Certificate Testing Technology (ICTT). Kompor dan motor listrik tersebut akan dapat digunakan dengan baterai yang menganut sistem pulsa token. Pengguna tidak perlu mencari stasiun pengisian listrik umum untuk mengisi daya jika baterai habis melainkan cukup mengisi pulsa token.

Muhammad Ikhlas Thamrin bermimpi membangun ekosistem listrik di Indonesia pada 2030. Penelusuran Erfa News, Muhammad Ikhlas Thamrin pernah membagikan postingan di Facebook soal kompor pulsa ini pada 12 Desember 2021. Di postingan itu, Ikhlas Thamrin memperkenalkan Kompor Pulsa Freeneg yang diklaim-nya menjadi pengganti Tabung Gas dengan cukup membeli pulsa token di Omind. Dia mengklaim temuan ini merupakan kompor Pulsa Pertama di dunia karya anak bangsa dan hanya bisa didapatkan di Koperasi Duta Omind Indonesia. Dia berharap hadirnya kompor pulsa Freeneg akan menjadi Solusi setiap rumah tangga. Hanya saja, tak ada kabar lebih jauh bagaimana nasib temuan kompor pulsa ciptaan Ikhlas Thamrin ini.

Bobibos Berpotensi Jadi Mimpi Siang Bolong Jika...

Bobibos atau bahan bakar dari jerami yang dikembangkan Muhammad Ikhlas Thamrin dinilai bisa berpotensi jadi cuma mimpi siang bolong belaka. Pasalnya pengembangan Bobibos perlu investasi besar, jalan panjang dan dukungan sejumlah pihak, utamanya Pertamina. Demikian disampaikan pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada Dr. Fahmy Radhi, MBA soal Bobibos (Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos) alias bahan bakar jerami temuan Muhammad Ikhlas Thamrin ini.

Menurut pengamat UGM ini, Bobibos atau bahan bakar jerami buatan M. Ikhlas Thamrin akan jadi mimpi siang bolong jika tak didukung Pertamina. Fahmy mengatakan Bobibos diperkenalkan sebagai terobosan inovasi dari sejumlah anak muda untuk menghasilkan alternatif BBM sebagai energi baru terbarukan (EBT) dengan kualitas tinggi, harga murah dan ramah lingkungan. “Meski begitu Bobibos masih harus diuji kelayakan sebagai BBM, baik uji laboratorium, maupun uji lapangan,” ujarnya di Kampus UGM, Kamis (20/11) dikutip dari laman ugm.ac.id.

Fahmy menuturkan untuk uji laboratorium bisa dilakukan oleh Lemigas Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) guna menguji RON, kandungan sulfur, emisi dan sebagainya. Sedangkan untuk uji lapangan bisa dilakukan oleh Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) guna menguji penggunaan Bobibos pada berbagai jenis kendaraan bermotor dengan mencapai 50.000 KM setiap kendaraan bermotor yang diuji, sesuai dengan standar uji internasional.

“Setelah kesemuanya lolos uji, saya kira Kementerian ESDM baru mengeluarkan sertifikat layak untuk produksi dan pemasaran secara masal,” katanya. Fahmy mengungkapkan diperlukan investasi yang tidak kecil untuk produksi dan pemasaran massalnya. Selain itu perlu jaringan distribusi yang luas di seluruh wilayah Indonesia. Ia berpandangan semestinya PT Pertamina memberi dukungan adanya penemuan ini. Jika perlu untuk mengatasi kesulitan, PT Pertamina turut berinvestasi pada Bobibos yang dinilai cukup prospektif di masa depan.

Dalam pendapatnya, Fahmy berharap Bobibos bisa menggunakan jaringan distribusi yang dimiliki Pertamina. “Bobibos perlu didukung baik dalam fasilitas penyimpanan, maupun jaringan SPBU. Tanpa dukungan penuh dari Pertamina akan sangat sulit bagi Bobibos dapat diproduksi dan dipasarkan secara masal. Bisa-bisa Bobibos hanya sekedar mimpi di siang hari bolong. Jangan biarkan ini bernasib sama seperti blue energi, yang sempat diluncurkan pada saat pemerintahan SBY, yang layu sebelum berkembang,” imbuhnya.

Post a Comment

0Comments

Berkomentarlah dengan bijak, bagi yang memberikan link aktif akan langsung hapus. Terima Kasih

Post a Comment (0)