Warga Aceh Tengah Masih Gunakan Jembatan Darurat Sebulan Pasca-Bencana – Tarif Rp30.000

Erlita Irmania
0

Desa Terisolir di Aceh Tengah Menghadapi Kebutuhan Dasar yang Memburuk


Sembilan desa di Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah masih terisolir akibat tiga jembatan yang rusak parah akibat banjir bandang dan tanah longsor pada akhir November lalu. Warga di sembilan desa ini, yang diperkirakan dihuni oleh sekitar 700 keluarga, telah hampir satu bulan menghadapi kesulitan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Beberapa warga kini bergantung pada jembatan darurat yang dibuat dari seutas sling baja, yang terbentang di atas sungai deras. Jembatan darurat ini menjadi satu-satunya akses untuk warga menyeberang menuju Kota Takengon atau Kabupaten Bener Meriah, guna mencari makanan dan berobat.

Khairunnisa, seorang ibu muda dengan bayi berusia 1,5 tahun, sedang bersiap menyeberang melalui jembatan darurat tersebut. Bayinya terus merengek dalam pelukannya. "Karena tidak ada jalan lain, kami harus melewati sling ini," katanya. Ia menyebutkan bahwa beberapa waktu lalu, bayinya sedang sakit dan harus segera dibawa ke tempat layanan kesehatan.

Warga Desa Burlah ini tampak sudah sangat terbiasa dengan proses menyeberang menggunakan jembatan darurat ini. "Sudah tak terhitung lagi [menyeberang di sini]," katanya. Meskipun sudah sering melakukannya, air mata Khairunnisa tetap menunjukkan rasa cemas yang mendalam.


"Kek mana enggak takut. Ini kalau jatuh bisa langsung hanyut ke sana," ujarnya sambil memeluk bayinya lebih erat. "Di sana [desa saya] tidak ada makanan dan listrik," tambahnya.

Sejumlah warga lain seperti Hamdika, yang tinggal di Desa Burlah, harus berjalan kaki puluhan kilometer melintasi antar kabupaten untuk membeli kebutuhan pokok. Ia harus melewati medan berlumpur, jembatan yang putus, dan perjalanan yang memakan waktu berhari-hari. Langkah ini terpaksa dilakukan karena persediaan bahan makanan di desanya telah habis.

"Beras, minyak makan, gula, telur, ini yang saya beli ke Desa Kem. Di kampung [saya] sudah putus, tidak ada lagi pasokan makanan," kata pria 21 tahun itu. Desa Kem yang dimaksud Hamdika berada di Kabupaten Bener Meriah.

Beberapa orang dari Desa Burlah menggunakan jembatan darurat setidaknya seminggu sekali. Mereka keluar dari desa yang terisolir dengan bergelantung pada seutas tali baja untuk membeli "makanan dan deterjen". Lalu kembali lagi ke desa yang gelap gulita pada malam hari karena listrik masih padam.

"Kalau [persediaan] makanan sudah habis, [kami bertahan dengan] makan pisang rebus," kata seorang penyintas.

Jembatan Gantung Swadaya yang Berbayar

Zumara Winni Kutarga, Camat Ketol, mengatakan terdapat sembilan desa yang terisolasi di wilayahnya. Hal ini disebabkan oleh tiga jembatan yang menjadi jalur nadi mobilitas warga telah rusak akibat banjir sejak akhir November lalu. Tiga jembatan tersebut adalah Jembatan Ayun, Jembatan Bah, dan Jembatan Berawang Gajah.

"Kalau sekarang harus melalui sling darurat yang dibuat oleh masyarakat secara swadaya," kata Zumara. Ia juga mengetahui bahwa penggunaan jembatan ini tidak gratis. Warga dari Desa Bah, Desa Burlah, dan Desa Berghang masih sangat bergantung dari jembatan darurat ini.

Sementara itu, Desa Serempah yang juga terisolir, warganya sudah meminta direlokasi ke tempat lain. Kata Zumara, pihaknya masih berupaya mencarikan tanah dan lokasi baru bagi sejumlah warga. "Sebelumnya ada dua desa yang meminta direlokasi, Desa Bah dan Serempah, Bah sudah kita relokasi setelah gempa 2013. Nah, ini sekarang Serempah, karena mereka juga menjadi korban kali ini," jelas Zumara.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan korban jiwa akibat bencana banjir bandang dan longsor Aceh Tengah mencapai 24 orang, dan empat lainnya dinyatakan hilang. Sebanyak 4.265 unit rumah mengalami kerusakan. Sebagian besar mengalami rusak berat. Badan ini juga melaporkan 61 jembatan rusak akibat terpaan gelombang bah.

Selain berjuang bertahan hidup di tengah kondisi yang tak pasti, warga di Kecamatan Ketol berharap setidaknya jembatan-jembatan yang rusak bisa segera dibangun kembali. "Agar mudah menyeberang desa. Karena sulit sekali jika keadaan seperti ini," kata Khairunnisa.

Jalur Jalan Takengon-Bireuen Dibuka Kembali

Sementara itu, banjir dan longsor yang terjadi akhir November telah memutuskan akses Takengon, Aceh Tengah, dan Kabupaten Bener Meriah selama hampir satu bulan. Kondisi ini membuat kelangkaan bahan pangan seperti beras, BBM, gas elpiji tidak bisa diperoleh masyarakat.

Namun, warga dua kabupaten itu bisa sedikit lega, karena akses jalan Takengon–Bireuen resmi dibuka pascabencana, 25 Desember 2025. Tiga jembatan penghubung, yakni Teupin Mane di Bireuen, serta Jembatan Tenge Besi dan Umah Besi, sudah dapat dilalui kendaraan roda empat dan roda enam.

Kepala Bidang Pembinaan Prasarana dan Keselamatan Dinas Perhubungan Bener Meriah, Lukman Hakim, mengatakan terbukanya jalur disambut sukacita oleh masyarakat. "Namun demikian, pemerintah daerah mengimbau kepada seluruh pengguna jalan agar tetap meningkatkan kewaspadaan," kata Lukman Hakim kepada awak media.

Disepanjang ruas jalan tersebut, masih terdapat sejumlah titik yang kondisi permukaannya belum stabil dan memerlukan penanganan lanjutan. "Selain itu, terjadi peningkatan volume lalu lintas sejak akses jalan kembali dibuka," tambah Lukman.


Sementara itu, akses dari Aceh Utara menuju Kabupaten Bener Meriah dan Takengon melalui ruas jalan KKA juga telah dapat dilalui kendaraan. Namun masih berlaku sistem buka-tutup sementara waktu, karena masih terdapat beberapa titik di kawasan Wih Pase yang sedang dalam proses penanganan oleh tim penanggulangan bencana.

"Sebagai bagian dari upaya percepatan perbaikan dan demi menjamin keselamatan pengguna jalan, ruas jalan KKA untuk sementara masih diberlakukan penutupan mulai pukul 07.00 WIB hingga 18.00 WIB," lanjut Lukman Hakim. Masyarakat juga diimbau agar tidak memaksakan perjalanan, dengan mengikuti informasi resmi dan terkini terkait kondisi lalu lintas, serta mengutamakan keselamatan saat melintasi jalur-jalur tersebut hingga kondisi jalan dinyatakan aman dan normal sepenuhnya.

Post a Comment

0Comments

Berkomentarlah dengan bijak, bagi yang memberikan link aktif akan langsung hapus. Terima Kasih

Post a Comment (0)