Demo besar di Iran berlangsung lima hari, dipicu oleh pedagang

Erlita Irmania
0

Protes Besar di Iran yang Dipicu Krisis Ekonomi

Iran kembali diguncang oleh gelombang protes besar yang dipicu oleh krisis ekonomi berkepanjangan. Unjuk rasa yang awalnya dimulai sebagai mogok pedagang di Teheran pada 28 Desember 2025 kini telah meluas ke berbagai kota dan wilayah pedesaan. Laporan korban jiwa terus muncul dalam bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan.

Media semi-resmi Fars News Agency melaporkan bahwa dua orang tewas di Kota Lordegan, Provinsi Chaharmahal dan Bakhtiari, sedangkan tiga orang lainnya tewas di Azna, Provinsi Lorestan. Menurut laporan tersebut, kematian terjadi dalam bentrokan langsung antara massa demonstran dan pasukan keamanan. Namun, kelompok hak asasi manusia Hengaw menyampaikan versi berbeda. Mereka menyatakan bahwa korban tewas adalah demonstran yang ditembak oleh aparat keamanan, serta melaporkan beberapa orang lainnya mengalami luka tembak. Hengaw juga menyebut seorang demonstran ditembak mati di Provinsi Isfahan pada Rabu (31/12/2025).

Rekaman video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan suara tembakan, kobaran api di jalanan, dan teriakan massa yang meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah. Di Azna, terdengar warga berteriak “Tidak tahu malu! Tidak tahu malu!" saat suara tembakan menggema di malam hari. Meski demikian, media Pemerintah Iran tidak secara terbuka mengakui skala kekerasan tersebut.

Para pengamat menilai minimnya peliputan resmi berkaitan dengan pengetatan kontrol terhadap media, menyusul pengalaman pada 2022 ketika banyak jurnalis ditangkap karena melaporkan protes nasional pasca-kematian Mahsa Amini.

Penyebab Gelombang Protes yang Meluas

Situasi di Iran semakin memanas setelah seorang relawan pasukan Basij berusia 21 tahun dilaporkan tewas pada Rabu (31/12/2025) malam dalam demonstrasi di Kota Kuhdasht, Iran barat. Kematian ini menjadi korban pertama dari pihak aparat keamanan sejak protes dimulai pada akhir pekan lalu. Kantor berita Pemerintah IRNA mengonfirmasi kematian relawan tersebut, tetapi tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Sementara itu, Student News Network, yang diyakini dekat dengan Basij, mengutip Deputi Gubernur Lorestan Saeed Pourali yang menyalahkan demonstran. “Relawan tersebut gugur sebagai martir di tangan para perusuh saat membela ketertiban umum,” kata Pourali. Pourali menambahkan bahwa 13 anggota Basij dan polisi mengalami luka-luka dalam bentrokan tersebut. Ia juga menegaskan bahwa akar protes tetap pada masalah ekonomi, meski memperingatkan potensi eskalasi keamanan.

“Protes yang terjadi disebabkan oleh tekanan ekonomi, inflasi, dan fluktuasi nilai mata uang, dan merupakan ekspresi kekhawatiran atas penghidupan rakyat. Suara warga harus didengar secara hati-hati dan bijaksana, tetapi tuntutan mereka tidak boleh dimanfaatkan oleh pihak-pihak pencari keuntungan,” ujar Pourali.

Namun, versi resmi pemerintah dipertanyakan banyak warga Iran di media sosial. Aktivis hak asasi manusia menilai kematian anggota Basij dapat dijadikan alasan oleh otoritas untuk membenarkan tindakan represif, seperti yang terjadi pada protes nasional 2022, ketika ratusan orang tewas dan ribuan lainnya ditahan. Sejumlah analis juga memperingatkan bahwa kematian aparat keamanan sering menjadi titik balik dalam respons negara, yang berpotensi memicu penangkapan massal, penggunaan kekuatan mematikan, dan pembatasan internet.

Tekanan Ekonomi Picu Aksi Mogok dan Protes

Akar utama gelombang protes yang melanda Iran adalah krisis ekonomi yang semakin parah. Nilai tukar mata uang Iran, rial, telah jatuh ke rekor terendah, dengan 1 dollar AS diperdagangkan sekitar 1,4 juta rial, dibandingkan 430.000 rial pada 2022, dan hanya 32.000 rial saat perjanjian nuklir 2015 masih berlaku. Para ekonom menyebut inflasi yang menembus 40 persen telah mendorong lonjakan harga pangan, bahan bakar, dan kebutuhan pokok, menekan rumah tangga yang telah lama terdampak sanksi Barat terkait program nuklir.

Kondisi ini memicu kemarahan publik, terutama setelah pemerintah menerapkan perubahan harga bahan bakar, yang diperkirakan akan semakin memperburuk inflasi. Sebagai bentuk protes, ribuan pedagang dan pemilik toko menutup usaha mereka di bazar-bazar utama Teheran, serta di Kota Shiraz dan Kermanshah.

Untuk meredakan situasi, Presiden Masoud Pezeshkian, yang dikenal sebagai tokoh reformis, melakukan langkah simbolik dengan mengganti gubernur bank sentral. Pemerintah menunjuk Abdolnasser Hemmati sebagai gubernur baru Bank Sentral Iran, menggantikan Mohammad Reza Farzin yang mengundurkan diri di tengah krisis. Dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah, Pezeshkian mengakui kesulitan yang dialami rakyat, “Dari perspektif Islam… jika kita tidak menyelesaikan persoalan penghidupan rakyat, kita akan berakhir di neraka.”

Meski menunjukkan itikad mendengar keluhan rakyat, pemerintah tetap menegaskan sikap tegas terhadap potensi eskalasi. Jaksa Agung Mohammad Movahedi Azad memperingatkan, “Setiap upaya mengubah protes ekonomi menjadi ketidakamanan, perusakan fasilitas umum, atau pelaksanaan skenario asing akan menghadapi reaksi keras.” Sementara itu, demonstrasi yang awalnya berfokus pada isu ekonomi kini semakin berkembang menjadi seruan politik yang menantang sistem teokrasi Iran. Meski protes belum meluas secara nasional seperti gelombang tahun 2022, banyak pengamat menilai situasi saat ini merupakan ujian terbesar bagi pemerintahan Pezeshkian, di tengah tekanan ekonomi, ketegangan regional, dan kekhawatiran akan penindakan besar-besaran oleh negara.

Post a Comment

0Comments

Berkomentarlah dengan bijak, bagi yang memberikan link aktif akan langsung hapus. Terima Kasih

Post a Comment (0)