Injil Katolik misa Selasa 27 Januari 2026 lengkap mazmur tanggapan

Erlita Irmania
0
Injil Katolik misa Selasa 27 Januari 2026 lengkap mazmur tanggapan
Ringkasan Berita:
  • Injil katolik misa hari Selasa lengkap mazmur tanggapan dan renungan harian Katolik.
  • Renungan harian Katolik ada dibagian akhir artikel ini.
  • Selasa 27 Januari 2026 merupakan hari Selasa Biasa III,  Perayaan fakultatif Santa Angela Merici, Perawan, dengan warna liturgi hijau.

Erfa News, MAUMERE - Mari simak Injil Katolik misa Selasa 27 Januari 2026.

Injil katolik misa hari Selasa lengkap mazmur tanggapan dan renungan harian Katolik.

Renungan harian Katolik ada dibagian akhir artikel ini.

Selasa 27 Januari 2026 merupakan hari Selasa Biasa III,  Perayaan fakultatif Santa Angela Merici, Perawan, dengan warna liturgi hijau.

Adapun bacaan liturgi Katolik hari Selasa 27 Januari 2026 adalah sebagai berikut:

Bacaan Pertama 2Sam 6:12b-15,17-19

“Daud dan segenap orang Israel mengarak tabut perjanjian dengan sorak-sorai.”

Pada waktu itu Daud pergi mengangkut tabut Allah dari rumah Obed-Edom ke kota Daud dengan sukacita.

Setiap kali para pengangkat-pengangkat tabut Tuhan itu melangkah maju enam langkah, maka ia mengorbankan seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan.

Dan Daud menari-nari di hadapan Tuhan dengan sekuat tenaga; ia berbaju efod dari kain lenan.

Daud dan seluruh orang Israel mengangkut tabut Tuhan itu dengan diiringi sorak dan bunyi sangkakala.

Tabut Tuhan itu dibawa masuk, lalu diletakkan di tempatnya, di dalam kemah yang dibentangkan Daud untuk itu, kemudian Daud mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan di hadapan Tuhan.

Setelah Daud selesai mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, diberkatinyalah bangsa itu demi nama Tuhan semesta alam.

Lalu dibagikannya kepada seluruh bangsa itu, kepada seluruh khalayak ramai Israel, baik laki-laki maupun perempuan, kepada masing-masing seketul roti bundar, sekerat daging, dan sepotong kue kismis. Sesudah itu pergilah seluruh bangsa itu, masing-masing ke rumahnya.

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan Mzm 24:7,8,9,10

Refren: Siapakah itu raja kemuliaan? Tuhanlah raja kemuliaan.

Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang dan bukalah dirimu lebar-lebar, hai pintu-pintu abadi, supaya masuklah Raja Kemuliaan!

Siapakah itu Raja Kemuliaan? Tuhan, yang jaya dan perkasa, Tuhan yang perkasa dalam peperangan!

Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang dan bukalah dirimu lebar-lebar, hai pintu-pintu abadi, supaya masuklah Raja Kemuliaan!

Siapakah itu Raja Kemuliaan? Tuhan semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan!

Bait Pengantar Injil Mat 11:25

Terpujilah Engkau, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi,sebab misteri kerajaan Kaunyatakan kepada kaum sederhana.

Bacaan Injil Mrk 3:31-35

"Barangsiapa melaksanakan kehendak Allah, dialah saudara-Ku"

Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia.

Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, mereka berkata kepada-Nya: “Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar, dan berusaha menemui Engkau.”

Jawab Yesus kepada mereka: “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?” Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku!

Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik

"Barangsiapa melaksanakan kehendak Allah, dialah saudara-Ku" Injil: Markus 3:31–35

Ketika Yesus Mendefinisikan Ulang Arti Keluarga

Kata “keluarga” selalu membawa emosi. Ada kehangatan, kenangan, rasa aman. Tapi juga bisa ada luka, jarak, dan konflik. Bagi sebagian orang, keluarga adalah tempat pulang. Bagi yang lain, justru tempat yang paling sulit.

Injil hari ini menampilkan momen sederhana, tetapi sangat mengguncang cara pikir banyak orang.

Ketika ibu dan saudara-saudara Yesus datang mencari Dia, seseorang memberi tahu-Nya. Jawaban Yesus terdengar mengejutkan:

“Siapakah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku?”

Lalu Ia memandang orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya dan berkata:

“Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku. Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan dan ibu-Ku.”

Dalam renungan Katolik harian Markus 3:31–35 ini, kita diajak merenungkan bagaimana Yesus tidak meniadakan keluarga, tetapi memperluas maknanya.

Yesus Tidak Menolak Keluarga, Ia Menyingkapkan Keluarga yang Lebih Dalam

Sering Injil ini disalahpahami seolah-olah Yesus meremehkan Maria dan saudara-saudara-Nya. Padahal Gereja dengan jelas mengajarkan betapa istimewanya peran Maria dalam sejarah keselamatan.

Yesus tidak sedang menolak keluarga-Nya. Ia sedang mengajar: ikatan yang terdalam bukan hanya ikatan darah, tetapi ikatan ketaatan pada kehendak Allah.

Ia membuka sebuah ruang baru: keluarga rohani.

Artinya, setiap orang yang membuka diri pada kehendak Bapa, siapa pun latar belakangnya, dipanggil masuk ke dalam keluarga Allah.

Dalam renungan Katolik tentang keluarga ini, kita diingatkan bahwa Gereja bukan hanya organisasi, tetapi rumah. Bukan hanya struktur, tetapi relasi.

Duduk di Sekeliling Yesus: Gambaran Gereja

Markus menulis bahwa orang-orang sedang duduk di sekeliling Yesus. Ini bukan detail kebetulan. Duduk di sekitar seorang rabi berarti menjadi murid. Belajar. Mendengarkan. Membuka hidup.

Yesus menunjuk mereka dan berkata: “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku.”

Gereja lahir dari sikap ini: duduk di sekitar Yesus, mendengarkan sabda-Nya, dan membiarkan hidup dibentuk oleh-Nya.

Maka keluarga rohani bukan soal keakraban emosional semata, tetapi tentang komitmen bersama untuk mencari kehendak Allah.

Melakukan Kehendak Allah: Inti Identitas Murid

Yesus tidak berkata, “Barangsiapa tahu banyak tentang Allah.”

Ia tidak berkata, “Barangsiapa aktif di kegiatan rohani.”

Ia berkata, “Barangsiapa melakukan kehendak Allah.”

Iman bukan hanya apa yang kita pahami, tetapi apa yang kita jalani.

Dalam konteks renungan Katolik remaja, ini sangat penting. Banyak anak muda tumbuh dalam lingkungan Katolik, hafal doa, ikut misa, aktif pelayanan. Semua itu baik. Tetapi Injil hari ini mengajak melangkah lebih dalam: apakah kehendak Allah sungguh menjadi arah hidupku?

Melakukan kehendak Allah berarti: belajar mengampuni ketika ego ingin membalas, memilih jujur ketika ada kesempatan curang, setia ketika mudah menyerah, peduli ketika lebih nyaman cuek.

Di situlah identitas murid dibentuk.

Keluarga Rohani: Tempat Bertumbuh dan Disembuhkan

Yesus membuka kemungkinan bahwa seseorang bisa menemukan keluarga bukan hanya di rumah biologis, tetapi juga dalam komunitas iman.

Bagi yang berasal dari keluarga harmonis, Injil ini memperluas kasih: supaya keluarga tidak tertutup, tetapi menjadi berkat.

Bagi yang berasal dari keluarga penuh luka, Injil ini memberi pengharapan: bahwa di dalam Kristus, selalu ada ruang untuk mengalami penerimaan, pendampingan, dan pertumbuhan.

Dalam renungan Katolik keluarga, kita melihat bahwa Gereja dipanggil menjadi keluarga yang tidak sempurna, tetapi berjalan bersama. Tempat di mana orang tidak harus berpura-pura kudus, tetapi berani bertumbuh.

Yesus di Tengah Lingkaran

Perhatikan posisi Yesus: Ia berada di tengah, dikelilingi oleh orang-orang. Inilah gambaran keluarga rohani yang sehat: Kristus di pusat.

Ketika Kristus tidak lagi di pusat, relasi mudah berubah menjadi:

kompetisi, pencarian pengakuan, kelompok tertutup, bahkan konflik rohani.

Tetapi ketika Kristus di pusat, perbedaan tidak menghancurkan, justru memperkaya. Latar belakang tidak memisahkan, justru menyatukan.

Dalam renungan harian ini adalah arah yang indah: membangun ruang digital yang bukan hanya religius secara visual, tetapi sungguh menghadirkan rasa “rumah” bagi jiwa.

Kehendak Allah: Bukan Beban, Tapi Jalan Hidup

Banyak orang takut pada istilah “kehendak Allah,” seolah itu selalu berat, menekan, dan mematikan mimpi. Padahal dalam Injil, kehendak Allah selalu berkaitan dengan hidup.

Yesus berkata di tempat lain bahwa kehendak Bapa adalah agar manusia beroleh hidup dan beroleh hidup dalam kelimpahan.

Maka melakukan kehendak Allah bukan berarti kehilangan diri, tetapi menemukan diri yang sejati.

Dalam renungan Katolik tentang kehendak Allah, Injil hari ini menegaskan: kita tidak dipanggil menjadi hamba ketakutan, tetapi anggota keluarga.

Refleksi Pribadi

Luangkan waktu sejenak hari ini dan tanyakan dengan jujur:

Apa arti “keluarga” bagiku saat ini?

Apakah aku sungguh membiarkan Yesus berada di pusat relasiku?

Dalam keputusan-keputusan kecil, apakah aku mencari kehendak Allah atau hanya kenyamananku?

Di mana aku bisa menjadi saudara yang menguatkan bagi orang lain?

Doa Penutup

Tuhan Yesus, Engkau memanggil kami bukan hanya menjadi pengikut, tetapi menjadi keluarga. Ajari kami melakukan kehendak Bapa dalam hal-hal kecil dan besar. 

Sembuhkan luka kami tentang keluarga, dan jadikan Gereja-Mu tempat di mana kami sungguh mengalami penerimaan dan pertumbuhan. Tempatkanlah Engkau di pusat hidup kami, supaya relasi kami memancarkan kasih-Mu. Amin.

Penutup: Dipanggil Masuk ke Dalam Lingkaran Kasih

Yesus hari ini tidak menunjuk silsilah, tetapi menunjuk hati yang mau taat. Ia tidak membatasi, tetapi membuka.

Semoga renungan Katolik harian Markus 3:31–35 ini menolong para remaja, keluarga, dan komunitas untuk melihat bahwa di dalam Kristus, kita tidak berjalan sendirian. 

Kita dipanggil masuk ke dalam lingkaran kasih, menjadi saudara-saudari yang bertumbuh bersama dalam kehendak Allah. (Sumber the katolik.com/kgg).

Berita Erfa NewsLainnya di Google News

Post a Comment

0Comments

Berkomentarlah dengan bijak, bagi yang memberikan link aktif akan langsung hapus. Terima Kasih

Post a Comment (0)