Apa Itu Stratifikasi Sosial dan Dampaknya?

Erlita Irmania
0

Pengertian Stratifikasi Sosial

Stratifikasi sosial adalah konsep yang menggambarkan pengelompokan masyarakat dalam sistem yang berlapis-lapis. Dalam konteks sosiologi, stratifikasi sosial mencerminkan perbedaan status dan posisi individu atau kelompok dalam struktur masyarakat. Contoh dari stratifikasi sosial bisa dilihat dari perbedaan antara kelompok orang kaya dan miskin, yang dapat terlihat melalui tempat tinggal, kualitas kesehatan, pendidikan, hingga gaya hidup.

Orang dengan ekonomi yang cukup biasanya tinggal di kawasan elite, memiliki rumah besar, kendaraan mewah, dan akses ke fasilitas yang lebih baik. Sebaliknya, orang-orang dengan penghasilan rendah seringkali harus berpikir panjang untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Perbedaan ini menjadi dasar terbentuknya stratifikasi sosial dalam masyarakat.

Definisi Stratifikasi Sosial Menurut Para Ahli

Beberapa ahli memberikan definisi berbeda tentang stratifikasi sosial, antara lain:

  1. Pitirim A. Sorokin
    Stratifikasi sosial diartikan sebagai perbedaan masyarakat ke dalam lapisan-lapisan kelas yang tersusun secara bertingkat (hierarkis).

  2. Robert M.Z. Lawang
    Stratifikasi sosial merupakan pengelompokan individu dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hierarkis berdasarkan dimensi kekuasaan, hak istimewa, dan prestise.

  3. Soerjono Soekanto
    Stratifikasi sosial merupakan pembedaan posisi individu atau kelompok berdasarkan kedudukan yang berbeda secara vertikal dalam masyarakat.

  4. P.J. Bouman
    Stratifikasi sosial adalah pengelompokan manusia yang didasari oleh cara hidup tertentu dan kesadaran akan hak-hak istimewa, yang menyebabkan adanya tuntutan akan gengsi sosial.

  5. Astrid S. Susanto
    Stratifikasi sosial hasil interaksi keseharian antarmanusia yang dilakukan secara teratur sehingga setiap manusia mempunyai pola yang menentukan hubungan mereka dengan orang lain secara vertikal dalam masyarakat.

  6. Paul B. Horton dan Chester L. Hunt
    Stratifikasi sosial dipahami sebagai sistem yang menciptakan perbedaan status di dalam suatu masyarakat.

Teori Stratifikasi Sosial

Dalam buku Stratifikasi dan Mobilitas Sosial (2016), Indera Ratna Irawati Pattinasarany menjelaskan bahwa teori-teori sosiologi yang membahas topik stratifikasi sosial dibagi menjadi dua kelompok, yaitu teori klasik dan modern. Dalam teori klasik, tiga tokoh penting yang melakukan kajian mendalam mengenai stratifikasi sosial adalah Karl Marx, Max Weber, dan Emile Durkheim.

  1. Karl Marx
    Menurut Marx, stratifikasi sosial terjadi karena kesenjangan dalam relasi kepemilikan alat produksi. Ketimpangan dalam kepemilikan alat produksi dalam suatu masyarakat itu mewujud pada kemunculan kelas pemilik modal dan pekerja. Model stratifikasi sosial dalam teori Marx bersifat unidimensional, yakni ditentukan oleh satu faktor, yaitu ekonomi.

  2. Max Weber
    Teori Max Weber mengaitkan stratifikasi sosial dengan dimensi lebih beragam. Selain terkait dengan ekonomi, stratifikasi sosial dalam teori Weber juga berkaitan dengan kelompok status atau kehormatan individu dan politik atau kekuasaan.

  3. Emile Durkheim
    Berbeda dari dua tokoh sebelumnya, teori Emile Durkheim mengulas stratifikasi sosial dari sudut pandang fungsional. Teori fungsional melihat bagian-bagian di suatu masyarakat, bisa aktif sesuai fungsinya. Durkheim memperhatikan tema solidaritas sosial, yang dia simpulkan bisa muncul dari pembagian kerja yang memunculkan ikatan moral.

Unsur-Unsur Stratifikasi Sosial

Dikutip dari buku Sosiologi Pendidikan oleh Hermawan dan Sulastri (2023), beberapa unsur yang menjadi dasar stratifikasi sosial adalah kedudukan dan peran.

  1. Kedudukan (Status)
    Kedudukan adalah tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial. Dalam kaitannya dengan stratifikasi sosial, kedudukan menggambarkan tempat seseorang dalam lapisan masyarakat, terkait dengan keberadaan orang lain, lingkungan pergaulan, harga diri, hak, dan kewajiban. Status dapat dibagi menjadi tiga jenis: ascribed status, achieved status, dan assigned status.

  2. Peran (Role)
    Peran merupakan aspek dinamis dari kedudukan atau status. Jika seseorang menjalankan hak dan kewajibannya sesuai dengan statusnya, maka ia telah menjalankan suatu peran. Peran menentukan tingkah laku individu, yang berdampak pada penyesuaian perilaku dalam kelompok.

Bentuk-Bentuk Stratifikasi Sosial

Stratifikasi sosial dapat dibedakan menjadi beberapa bentuk, antara lain:

  1. Sistem Kasta
    Dalam sistem kasta, keanggotaan ditentukan berdasarkan warisan dan berlangsung seumur hidup. Stratifikasi sosial pada masyarakat yang menganut sistem kasta bersifat kaku dan tidak bisa diubah. Contohnya seperti di Bali yang mengenal empat kasta utama yaitu Brahmana, Satria, Vesya, dan Sudra.

  2. Sistem Kelas Sosial
    Sistem ini membagi masyarakat ke dalam kelas atas, menengah, dan bawah. Kelas sosial biasanya berhubungan dengan kedudukan keluarga.

  3. Sistem Feodal
    Dalam sistem feodal, posisi seseorang diberikan sejak lahir dan tidak dapat berubah. Mobilitas sosial hampir tidak mungkin, contohnya seperti rakyat biasa yang tidak dapat naik menjadi bangsawan.

  4. Sistem Apartheid
    Sistem apartheid merupakan bentuk diskriminasi berdasarkan warna kulit, seperti yang pernah diterapkan di Afrika Selatan, di mana keturunan Eropa dipisahkan dari penduduk kulit berwarna.

Fungsi Stratifikasi Sosial

Stratifikasi sosial memiliki beberapa fungsi utama dalam masyarakat, antara lain:

  1. Menentukan Status Sosial
    Stratifikasi sosial berfungsi untuk menempatkan individu pada posisi atau status sosial yang sesuai untuk melaksanakan tugas dan kewajiban di masyarakat.

  2. Menjamin Keteraturan Sosial
    Stratifikasi sosial membantu menempatkan individu yang memiliki keahlian, kepemimpinan, dan pendidikan di posisi penting untuk menjaga keteraturan, stabilitas, dan kesinambungan komunitas.

  3. Membentuk Kelas Sosial
    Karl Marx dan Max Weber berpendapat bahwa stratifikasi sosial berfungsi membedakan kekayaan, kekuasaan, kehormatan (privilege), dan prestise di antara anggota masyarakat.

  4. Mempersatu dan Mempermudah Sistem Kehidupan Sosial
    Stratifikasi sosial membantu mengelompokkan masyarakat berdasarkan fasilitas hidup tertentu, seperti akses terhadap barang dan gaya hidup.

Dampak Stratifikasi Sosial

Dampak yang ditimbulkan akibat ketidaksamaan dalam sistem sosial (stratifikasi sosial) yakni sebagai berikut:

  1. Perbedaan Gaya Hidup
    Stratifikasi sosial menyebabkan perbedaan gaya hidup di masyarakat, karena simbol-simbol tertentu menandakan status sosial seseorang.

  2. Penegasan Status Melalui Simbol
    Individu menunjukkan pencapaiannya kepada orang lain melalui berbagai simbol yang menandakan status sosialnya. Simbol status ini terwujud dalam cara menyapa, berbahasa, gaya bicara maupun komunikasi nonverbal seperti gerak tubuh, gaya pakaian, dan penggunaan aksesoris.

  3. Terbentuknya Masyarakat Majemuk
    Stratifikasi sosial menyebabkan masyarakat menjadi majemuk, di mana muncul beragam kebudayaan dalam satu komunitas.

Post a Comment

0Comments

Berkomentarlah dengan bijak, bagi yang memberikan link aktif akan langsung hapus. Terima Kasih

Post a Comment (0)