
Perjalanan Seorang Penggemar K-Pop yang Mengalami Konflik
Mumpuni Ken Desti, yang akrab disapa Puni, sudah menjadi penggemar K-pop sejak duduk di bangku SD pada tahun 2012. Namun, perdebatan antar penggemar K-pop di internet membuatnya mempertimbangkan kembali keinginannya untuk pergi ke Korea Selatan.
"Kalau misalkan mau ke luar negeri, ke Korea jadi pilihan terakhir," katanya.
Pada 31 Januari, saat grup K-pop Day6 tampil di Kuala Lumpur, 'fansite' Korea Selatan membawa kamera ke konser, meskipun membawa peralatan dan merekam dilarang di konser K-pop di Malaysia. Para penonton mengkritik 'fansite' tersebut di media sosial, tetapi pengguna internet Korea Selatan, yang dikenal sebagai Knetz, membela perilaku tersebut.
Setelah konser, penonton dari Malaysia menggunakan media sosial untuk mengkritik penggemar Korea dengan mengatakan mereka tidak menghormati aturan konser lokal. Namun, netizen Korea Selatan membela para penggemar tersebut sebagai bentuk solidaritas.
Konflik online tersebut semakin panas, hingga netizen Asia Tenggara bersatu dalam solidaritas di bawah tagar "SEAblings." SEAblings menggabungkan kata Asia Tenggara, termasuk Thailand, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Vietnam, dan "siblings", yang berarti saudara kandung.
Perselisihan tersebut pertama kali muncul di X, tetapi akhirnya menyebar ke platform media sosial lainnya termasuk YouTube, Instagram, Facebook, dan TikTok. Menurut platform Drone Emprit, unggahan terkait isu "Knetz vs SEAblings" 18.000 kali disebut dan merekam 222 juta interaksi di berbagai platform.
Perseteruan yang Membawa Dampak pada Penggemar K-Pop
Kedua kubu saling menghina, dan banyak unggahan di media sosial, khususnya dari pengguna Knetz, melempar ejekan rasis terhadap pengguna internet Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Sebagian pengguna internet mengejek fitur wajah dan warna kulit yang warganegara Asia Tenggara yang lebih gelap.
"Sejak kasus Knetz versus SEAblings itu ... orang-orang suka berpendapat, terus nge-vlog ke Korea [yang menunjukkan] jadi benar ternyata sisi gelapnya Korea tuh begitu," ujarnya.
Meskipun masih mendukung idola K-pop-nya, Treasure Maker, Puni memutuskan untuk mengikuti girl band lain dari Indonesia. "Saya mengikuti No Na juga. Mungkin dari situ banyak ke teralihkan kali, ya. Jadi, K-popnya nanti dulu," ujarnya.
"Daripada maksudnya setiap buka X aduh, berantem lagi. Isinya marah-marah lagi, ngatain lagi, mending teralih ke cari konten yang disuka, kayak No Na."
Beberapa pembuat konten di media sosial dari Korea Selatan telah meminta maaf. "Atas nama Korea, saya ingin menyampaikan permintaan maaf. Rasisme seharusnya tidak pernah terjadi," kata seorang pengguna TikTok. Kreator konten Korea Selatan, Jin Seunghyeon, yang merupakan mahasiswa di Indonesia, juga telah menyampaikan permintaan maaf.
"Saya percaya bahwa dalam situasi saat ini, orang Indonesia memandang orang Korea Selatan sebagai rasis secara umum, yang jauh dari kebenaran menurut perspektif saya," katanya kepada ABC.
Dampak pada Industri K-Pop dan Budaya Populer
Menurut platform analitik global K-pop Radar, Indonesia adalah pasar K-pop terbesar di Asia Tenggara, tetapi perseteruan daring tersebut telah menyebabkan banyak penggemar menyerukan boikot konser K-pop dan budaya Korea secara lebih luas.
"Budaya pop asing yang ada di Indonesia itu sekarang didominasi oleh Korean Wave, baik dari lagu K-Pop atau K-drama, atau juga industri kecantikannya, K-beauty dan juga pariwisata," kata Ranny Rastati, peneliti budaya pop Korea di Badan Riset dan Inovasi Nasional Indonesia.
Ranny mengatakan meskipun konflik online tersebut kemungkinan tidak akan berdampak signifikan pada pendapatan industri Korea, para penggemar mungkin akan mulai mengonsumsi lebih banyak konten dari negara lain seperti China dan Thailand.
"Saya pikir kalau dua negara ini bisa mengambil momentum dari kejadian Knetz versus SEAblings, ini mungkin bisa memperkuat dominasi mereka terhadap K-Pop," katanya.
Isu Rasisme Sistemik di Korea Selatan
Perseteruan di internet itu juga menyentuh isu "rasisme sistemik" di Korea Selatan, terhadap warga Asia Tenggara, dan "mereka yang berkulit lebih gelap." Ivy Tania mengatakan mengalami rasisme di Korea Selatan ketika ia pergi ke sana pada tahun 2014 untuk 'training' sebagai idola K-pop.
Ketika baru datang, Ivy mengaku merasakan kebaikan dan keramahan dari teman-teman Koreanya. Namun, ia mulai mengalami tindakan rasisme di sana ketika dalam perjalanan ke Busan.
"Saya berwisata dengan teman Amerika, kebetulan teman saya warga Amerika kulit hitam, yang warna kulitnya sangat berbeda dengan orang Korea," katanya.
"Tante-tante yang jaga konternya langsung berteriak 'keluar, keluar!' Kami bilang 'Enggak, kita bukan orang jahat', tapi dia ... benar-benar kasar banget sama kita dan kayak enggak welcoming banget, terus selain diteriakin, kita juga didorong keluar gitu."
Ivy mengatakan seorang pemilik toko di pasar mengusirnya saat ia mau membeli makanan.
Identitas Nasional yang Berbasis Homogenitas Etnis
Korea Selatan dan Jepang adalah satu-satunya negara di OECD yang tidak memiliki undang-undang anti-diskriminasi yang komprehensif, tetapi beberapa rancangan undang-undang telah diajukan di parlemen Korea Selatan selama bertahun-tahun.
Jihye Kim, dosen Studi Korea di University of Melbourne, mengatakan rasisme dan diskriminasi semakin diakui dan diperdebatkan dalam masyarakat Korea Selatan.
"Secara historis, keyakinan kuat terhadap homogenitas etnis dan garis keturunan mempengaruhi identitas nasional yang terpusat pada persatuan budaya dan etnis," katanya.
"Meskipun ini membantu menumbuhkan kohesi sosial pada periode sebelumnya [selama periode pemerintahan kolonial Jepang], hal ini namun mempersulit penerimaan penuh terhadap keragaman etnis setelah angka imigrasi meningkat."
Warga Asia Tenggara Bersatu dalam Solidaritas
Beberapa ahli mengamati perseteruan daring tersebut juga menyatukan pengguna media sosial di seluruh Asia Tenggara.
"Dari sudut pandang kita sebagai orang Asia Tenggara gitu dari sebagai yang termasuk dalam SEAblings, itu positif banget sih, karena kan jatuhnya kayak solidaritas melawan rasisme melawan diskriminasi," ujar Syifa Nabila Syaharani Jauhari, akrab disapa Sasha, analis di Drone Emprit.
"Dan karena awalnya biasanya kita berantem gitu saling ngata-ngatain antar negara Asia Tenggara justru jadi bersatu."
Sasha mencatat sebagian besar pengguna Asia Tenggara di berbagai platform menanggapi hinaan rasis tersebut dengan humor dan meme. Ia menambahkan algoritma platform media sosial juga telah mengangkat diskusi tersebut hingga meluas dan melampaui komunitas K-pop.
"Jadi karena algoritmanya seperti itu, dan fans K-pop banyak banget jadinya viral ke seluruh orang di Indonesia [dan] banyak yang ikutan. walaupun mereka enggak suka K-pop gitu," katanya.
Puni mengatakan meskipun komentar-komentar rasis tersebut mengecewakan, ia senang melihat komunitas daring dari seluruh Asia Tenggara bersatu dalam solidaritas.
"Banyak netizen Indonesia yang kayak sudahlah enggak usah, enggak usah ditanggepin serius, jadiin bercanda aja dan jadinya hiburan juga sih," katanya.
"Tapi sebenarnya let it flow aja lah."
X dan Meta juga telah dihubungi untuk dimintai komentar.
Berkomentarlah dengan bijak, bagi yang memberikan link aktif akan langsung hapus. Terima Kasih