Bosch MDeX 2025: Perangkat Lunak, Suhu Ekstrem, dan Revolusi Mobil Cerdas di Proving Ground Memanbetsu
Udara sejuk langsung menyergap saat Erfa News melangkah keluar dari Bandara Memanbetsu, sebuah kota kecil di Prefektur Hokkaido, Jepang. Khas nuansa pedesaan negara maju, Memanbetsu menghadirkan ketenangan yang jauh dari kebisingan seperti yang dirasakan Tribunnews di Haneda, satu di antara bandara utama di Tokyo, tempat Erfa News singgah sebelum sampai di sana.
Meski cenderung senyap, Memanbetsu rupanya menjadi salah satu tulang punggung lokasi pengembangan raksasa teknologi asal Jerman, Bosch yang gemanya sudah mendunia lewat berbagai inovasi kekinian mulai dari alat-alat rumah tangga, peralatan berat, hingga dunia otomotif. Ya, di Memanbetsu ini Bosch membangun sebuah fasilitas pengujian (proving ground) bagi banyak teknologi mutakhir mereka, khususnya untuk perotomotifan baik roda dua ataupun roda empat.
Furuichi Aiko, Communications Manager of Bosch Jepang yang datang menjemput Tribunnews, menjelaskan, fasilitas proving ground di Memanbetsu hanya satu di antara puluhan fasilitas pengujian yang dimiliki Bosch di seluruh dunia, dua di antaranya di Jepang, termasuk di Shiobara. Tribunnews menjadi satu-satunya media dari Indonesia yang mendapat undangan untuk melihat bagaimana teknologi hasil kreasi dan inovasi Bosch diuji di fasilitas ini dalam acara bertajuk Mobility Driving Experience (MDeX) 2025.

Saat Suhu Ekstrem Jadi Tantangan Pengujian
Dalam kesempatan ini, Bosch seolah memamerkan keseriusan mereka, bukan untuk menjadi produsen mobil, namun menjadi bagian dari pengembangan komponen dan platform mobil masa depan, di mana kendaraan tidak lagi murni digerakkan oleh mekanisme (sistem gerak) mekanik semata, namun didominasi oleh kumpulan data, perangkat lunak, serta kecerdasan buatan.
Tur media MDeX juga menghadirkan empat pilar utama Bosch: Bosch Mobility East Asia, Bosch Engineering Group (BEG), ETAS, dan Bosch Two-Wheeler & Powersports. Melalui MDeX 2025, Bosch menunjukkan bagaimana inovasi lintas domain dan integrasi perangkat lunak akan menjadi fondasi mobilitas masa depan — lebih aman, efisien, dan terhubung sepenuhnya.
Untuk itu, Bosch menyiapkan lahan seluas 63 hektare di Memanbetsu lengkap dengan berbagai macam jenis trek dan lintasan, mulai dari jalan rusak dan berlubang, aspal bergelombang, trek basah dan licin, tikungan loop, hingga trek lurus nan mulus. Tapi mengapa di Memanbetsu yang punya suhu dingin nan ekstrem?
Saat Tribunnews datang, suhu yang tercatat adalah sekitar 12 derajat celcius pada siang hari namun secara cepat turun menjadi 2 derajat pada sore hari pada musim gugur di Oktober. Pada musim dingin, suhu bisa menjadi lebih ekstrem, di bawah 0 derajat, di mana salju akan menutupi seluruh lintasan. “Justru itu mengapa Memanbetsu menjadi Lokasi yang pas. Selain kontur wilayah yang bisa direkayasa menjadi berbagai macam trek, suhu ekstrem bisa menjadi alat uji dan tantangan yang tepat untuk mengetes platform yang dikembangkan,” ujar seorang staf Bosch yang ikut mengantar Tribunnews ke proving ground.
Berjarak hanya sekitar 10 menit dari Bandara Memanbetsu, lokasi proving ground Bosch usut punya usut rupanya pernah menjadi bagian dari lintasan bandara itu sendiri, sebuah kondisi ideal untuk menggeber habis-habisan komponen kendaraan hasil pengembangan Bosch.

Era Perangkat Lunak Bikin Mobil Bak Ponsel
Sesampainya di lokasi, Tribunnews diajak masuk ke dalam sebuah gedung, tampaknya merupakan bangunan utama dari fasilitas yang menjadi pusat pengembangan perangkat lunak otomotif Bosch. Pintu berlapis dengan akses khusus menjadi penanda kalau fasilitas ini memang diawasi secara ketat. Benar saja, Tribunnews langsung diwanti-wanti tidak bisa ‘berkeliaran’ sembarangan. Tak ada foto atau video yang diperbolehkan tanpa seizin staf yang bertugas.
Namun, di balik semua kekakuan itu, senyum Klier Willy, Vice President, Marketing & Business Strategy and Product Management Bosch Mobility South and East Asia memecah kebekuan. Willy juga tertawa lebar saat Tribunnews menjelaskan kalau di Indonesia, Bosch lebih dikenal sebagai produk rumah tangga, seperti bor dan penghisap debu. “Kami Adalah penyuplai sparepart dan komponen kendaraan nomor satu di dunia. Home appliances cuma satu dari beberapa divisi yang dimiliki Bosch,” kata Willy.
Dia menjelaskan, Bosch saat ini berekspansi dan serius menggarap perangkat lunak di bidang mobilitas. “Perangkat lunak tidak hanya akan mengubah cara kita menggunakan dan merasakan pengalaman berkendara di masa depan. Perangkat lunak juga akan mengubah cara mobil dirancang dan direkayasa,” katanya. “Apa benar begitu?” tanya Tribunnews yang langsung dijawab singkat oleh Willy, “Silakan coba sendiri”.
Bosch telah sudah menyiapkan lima mobil yang telah dilengkapi sejumlah platform dan komponen hasil pengembangan Bosch. Perlu diingat, ini bukan acara test drive mobil, melainkan menguji komponen dan platform yang dikembangkan Bosch. Lima mobil tersebut adalah Volkswagen Golf, Nissan Ariya, Mercedes Benz GLE, Honda N-e, dan Lexus RZ. Willy menjelaskan, Bosch memformulasikan konsep Software-defined Mobility (SDM) — kendaraan yang seluruh karakternya ditentukan oleh perangkat lunak.
Setiap sistem, dari kemudi hingga rem, kini bisa diperbarui secara over-the-air (OTA), seperti mengunduh pembaruan sistem di ponsel. Lewat lima mobil itu, Bosch ingin menunjukkan kalau platform mereka compatible di berbagai jenis dan merek kendaraan. Perlu diingat, meski ada yang sudah dipasarkan secara luas, sejumlah platform yang dipamerkan Bosch ini belum akan meluncur di pasaran dalam waktu dekat.

Revolusi Mobil Cerdas
Tribunnews kemudian diajak untuk menjajal kendaraan-kendaraan tersebut. Semuanya masih bawaan pabrik, hanya ditambahkan platform yang disiapkan Bosch. Diantar sebuah minibus, Tribunnews menyaksikan betapa area pengujian dijaga sangat ketat. Gerbang tinggi beraliran listrik hingga pagar yang dilapisi partisi logam mengitari area trek pengujian. “Bukan hanya untuk pengamanan, tapi juga untuk keamanan bahkan dari unsur-unsur radiasi sensor ultrasonik yang mungkin ada,” kata seorang staf Bosch yang mendampingi.
Di lokasi ini, tampak berbagai jenis lintasan dari offroad, jalan menanjak-menurun, jalanan basah, trek bergelombang, hingga lintasan lurus dengan loop di ujungnya. Ada lima platform yang ditampilkan dalam uji kendaraan ini, Connected Maps Service, Trailer Assist, Easy Turn, Vehicle Motion Management (VMM), dan inovasi eAxle.
Secara mudah, dapat dijelaskan kalau sistem Connected Maps Service membuat mobil akan memiliki ‘radar’ atas semua kendala di jalanan, mulai dari jalan berlubang hingga banjir kemudian beraksi dengan mengatur kecepatannya sendiri secara otomatis tanpa perlu diperintah oleh sang pengendara. Bosch menyebut fitur ini bagian dari apa yang mereka sebut sebagai Advanced Driver Assistance Systems (ADAS).
Sistem ini digerakkan AI dan dapat bertransformasi dari sistem keselamatan reaktif menjadi asisten pengemudi cerdas yang proaktif, memberikan pengalaman berkendara yang aman dan efisien dengan belajar dari data dunia nyata, membantu kendaraan merespons kompleksitas dunia nyata secara lebih alami. Trailer assist, ditujukan bagi mereka yang memiliki kendaraan trailer khususnya di kawasan Amerika di mana karavan sangat populer, memudahkan sopir untuk memadankan dan melepas trailer mereka bahkan dengan jejakan gas penuh tanpa perlu khawatir bagian trailer akan menabrak body mobil utama (Jack Knife).
Adapun fitur Easy Turn akan membuat radius putar mobil menjadi begitu ringkas. Teknologi Act-by-wire dan Brake-by-wire menggantikan koneksi mekanis dengan sistem elektronik penuh sehingga hanya satu poros pengereman yang bekerja saat mobil berputar. Hal lain Adalah Vehicle Motion Management (VMM) membuat mobil dapat menyesuaikan gaya berkendara dan bermanuver lebih efisien hanya lewat pembaruan kode, tanpa perubahan komponen fisik. Inovasi eAxle generasi baru menandai langkah Bosch menuju elektrifikasi cerdas — menggabungkan motor, girboks, dan pengontrol dalam satu unit yang ringan, senyap, hemat energi, dan mampu memanfaatkan panas buangan untuk efisiensi optimal.
Bosch tampaknya sukses memperlihatkan ke Tribunnews bagaimana berbagai domain otomotif—yang dulu berjalan terpisah—kini menyatu dalam satu sistem terpadu demi menghadirkan performa, keamanan, kenyamanan, dan efisiensi yang lebih tinggi. Tribunnews merasakan langsung potensi transformasi teknologi kendaraan melalui pengalaman mengemudi berbasis integrasi sistem gerak, sensor, dan komputasi. Lalu bagaimana rasanya mobil-mobil tersebut dikendarai? Simak hasil liputannya pada tulisan berikutnya.
Berkomentarlah dengan bijak, bagi yang memberikan link aktif akan langsung hapus. Terima Kasih