Demokrasi di Ujung Jari

Erlita Irmania
0
Demokrasi di Ujung Jari

Perubahan Masa Depan Komunikasi Politik

Pada masa lalu, koran adalah raja dalam dunia informasi. Televisi menjadi panglima komunikasi politik, sedangkan radio menjadi gema suara penguasa. Di era itu, politik berjalan di jalur yang jelas, pesan disusun dengan terstruktur, editor menyaring informasi, penyiar membacakan berita, dan publik hanya mendengar. Alurnya linear, runut, dan terkendali. Namun, gelombang digital mengubah segalanya dalam satu sapuan besar, membuat politik tidak pernah lagi sama seperti dulu.

Dalam dua dekade terakhir, kita memasuki fase baru komunikasi politik. Koran mulai tersisihkan, televisi kehilangan dominasi, dan ruang online menjadi medan utama pertarungan gagasan. Media sosial bukan lagi sekadar pelengkap, tetapi menjadi pusat gravitasi komunikasi. Tidak hanya sebagai tempat berbagi foto, tetapi juga sebagai arena pembentukan opini publik yang menentukan arah demokrasi dan bahkan mampu mengubah kebijakan negara.

Perubahan ini tidak hanya menggeser medium, tetapi juga menggeser logika kuasa, mekanisme penyampaian pesan, hingga struktur psikologis masyarakat dalam memproses informasi.

Media Sosial Menggeser Tahta Media Konvensional

Dulu, seorang pemimpin ingin berbicara kepada rakyat harus melewati pintu gerbang media redaksi. Semua pesan harus disunting, diseleksi, dan disetujui. Media cetak dan televisi memiliki kekuatan gatekeeping, yaitu kemampuan untuk mengatur apa yang layak dibaca dan ditonton oleh publik.

Namun kini, media sosial meruntuhkan pagar tersebut. Kini siapa pun, termasuk pemimpin negara, dapat menyiarkan pesan langsung kepada jutaan orang tanpa harus menunggu jam tayang berita.

Berikut tiga keunggulan utama media sosial dan media online yang membuatnya mengungguli media cetak serta televisi:

  • Kecepatan tanpa lawan
    Koran membutuhkan pencetakan. Televisi membutuhkan jadwal tayang. Media sosial? Satu klik, selesai. Informasi tersebar saat itu juga.

  • Akses yang tak dibatasi ruang dan waktu
    Berita di televisi bisa terlewat. Koran hanya terbit pagi atau sore. Sementara postingan digital tinggal ditonton kapan saja, dari mana saja.

  • Biaya murah dan jangkauan tak terbatas
    Memproduksi iklan televisi bisa menghabiskan ratusan juta. Mengunggah video kampanye ke TikTok, Facebook, X (dulu Twitter), Instagram, Thread, dll hanya membutuhkan modal ponsel.

Keunggulan-keunggulan ini membuat politisi tidak lagi harus "melamar" media agar diberitakan. Kini merekalah penerbit konten, editor, dan distributor pesan sekaligus.

Respons Mengalahkan Refleksi

Dulu, pernyataan politik melalui proses panjang yang disusun, dikaji, lalu diumumkan. Hari ini, tekanan publik menuntut respons instan. Satu isu viral bisa membentuk persepsi nasional dalam waktu kurang dari 24 jam. Politik menjadi seperti pertandingan bola tanpa jeda, momentum berubah cepat, sentimen publik berfluktuasi tiap jam, narasi harus dikelola sepanjang hari.

Pemimpin yang lambat merespons seperti pemain yang terlambat meraih bola, narasi bisa direbut lawan sebelum ia sempat berbicara.

Kecepatan ini merupakan keunggulan sekaligus bumerang, karena pesan yang terlalu cepat bisa memicu kesalahan, pesan yang terlalu lambat bisa kehilangan relevansi.

Antara Partisipasi Nyata dan Ilusi Kedekatan

Media sosial memberikan fitur yang tidak dimiliki televisi maupun koran, yaitu interaksi langsung. Komentar, polling, live chat, dan direct message membuat publik merasakan hubungan yang lebih egaliter dengan pemimpinnya.

Ini keunggulan besar, di mana pemimpin bisa membaca aspirasi langsung, masyarakat merasa suara mereka didengar, dialog berlangsung tanpa protokol atau birokrasi.

Namun interaksi ini juga dapat melahirkan ilusi. Tim media pemimpin cermat mengatur komentar yang direspon. Algoritma hanya menampilkan sebagian suara. Maka sebagian kedekatan itu adalah kedekatan yang dipentaskan oleh sebuah strategi komunikasi yang dibangun untuk menciptakan citra responsif.

Meski begitu, dibandingkan media cetak dan televisi yang satu arah, ruang dialog ini tetap merupakan lompatan besar dalam demokratisasi komunikasi.

Media Online dan Jurnalisme Cepat

Tidak hanya media sosial yang mengubah peta. Media online juga menjadi mesin baru dalam produksi dan distribusi berita politik. Mereka mengungguli media cetak dan televisi karena bisa “mengudara” 24 jam, tidak ada jadwal tayang, tidak ada terbit pagi.

Berita bisa muncul kapan saja, detik demi detik, biaya produksinya jauh lebih rendah serta media online tidak membutuhkan biaya cetak, distribusi, atau studio besar.

Integrasi dengan algoritma
Berita yang disukai, dikomentari, atau dibagikan akan muncul di mana-mana yang biasa disebut FYP (for your page) memperbesar jangkauan tanpa biaya tambahan. Setiap berita bisa langsung diperdebatkan, disanggah, atau diklarifikasi oleh publik dalam kolom komentar.

Keunggulan-keunggulan ini membuat koran kehilangan pembaca, televisi kehilangan pemirsa, dan redaksi kehilangan monopoli atas informasi politik.

Kini persaingan berita bukan lagi antara media besar, tetapi antara media besar melawan warganet yang menjadi “reporter dadakan” dalam setiap peristiwa politik.

Disinformasi, Polarisasi, dan Kerentanan Demokrasi

Kekuatan media sosial dan media online yang begitu besar membawa risiko yang sebanding. Kecepatan informasi membuat hoaks dan propaganda menyebar lebih cepat dari klarifikasi. Algoritma menciptakan kotak-kotak informasi yang memperkuat pendapat pribadi, bukan membuka dialog.

Televisi dahulu menjaga standar redaksi. Koran dahulu mengutamakan verifikasi. Namun di media sosial, siapa pun bisa menjadi sumber berita, bahkan akun anonim. Konsekuensinya adalah opini publik mudah digeser, polarisasi meruncing, masyarakat terbelah dalam “kebenarannya” masing-masing.

Jika dibiarkan tanpa regulasi, ruang digital bisa menjadi ladang subur bagi manipulasi politik.

Jejak Digital Menjadi Senjata Politik

Dalam dunia digital, setiap klik adalah data. Setiap tawa pada video politik adalah sinyal. Setiap komentar adalah amunisi. Semua ini dapat dianalisis menjadi strategi kampanye yang sangat presisi.

Inilah keunggulan media digital yang sekaligus menakutkan, ia mampu memetakan psikologi publik hingga ke tingkat individu. Dengan data ini, pesan politik bisa diatur sedemikian rupa hingga masuk ke titik lemah emosional seseorang menjadi sebuah metode persuasif yang mustahil dilakukan media cetak dan televisi.

Namun efek sampingnya jelas karena data dapat disalahgunakan, opini dapat dimanipulasi, dan hasil politik dapat dipengaruui tanpa disadari masyarakat.

Masa Depan Komunikasi Politik

Seiring kemajuan teknologi, komunikasi politik akan memasuki fase yang lebih rumit. Deepfake akan membuat publik sulit membedakan mana pidato asli, mana rekayasa. Bot politik dapat menciptakan kesan dukungan palsu. AI generatif dapat memproduksi konten politik dalam jumlah tak terbatas dan dalam waktu sangat singkat.

Ini menunjukkan satu hal bahwa masa depan demokrasi akan ditentukan oleh pertarungan antara kecanggihan teknologi dan kemampuan kita menjaga etika komunikasi politik.

Hari ini, masa depan politik tidak lagi ditentukan di studio televisi atau kantor redaksi surat kabar. Pertarungan gagasan kini berlangsung di timeline, trending topic, dan kolom komentar. Media sosial dan media online telah menjadi infrastruktur baru demokrasi yang lebih terbuka, lebih cepat, lebih interaktif, tetapi juga lebih rawan.

Koran dan televisi memang masih ada, tetapi bukan lagi pusat kekuasaan informasi. Kini kekuasaan itu berada pada interaksi, kecepatan, dan algoritma.

Karena itu, pertanyaan terbesar bukan lagi “mengapa politik berpindah ke media sosial?” Pertanyaannya adalah: “Siapa yang benar-benar mengendalikan opini publik dalam ruang yang begitu cepat, begitu cair, dan begitu mudah dimanipulasi?”

Di situlah letak pertaruhan demokrasi kita hari ini.

Post a Comment

0Comments

Berkomentarlah dengan bijak, bagi yang memberikan link aktif akan langsung hapus. Terima Kasih

Post a Comment (0)