Perang dingin senjata AI, drone China bisa berburu seperti elang

Erlita Irmania
0

BEIJING, Erfa News - Para insinyur di salah satu universitas terkemuka yang berafiliasi dengan militer China mengembangkan simulasi pertempuran drone secara real time dengan meniru perilaku hewan pemangsa dan mangsa di alam.

Penelitian tersebut terinspirasi dari cara elang memilih target paling rentan, sehingga drone pertahanan dilatih memisahkan dan menghancurkan pesawat musuh yang paling lemah.

Sementara itu, diciptakan pula "penyerang" berupa drone yang diprogram meniru perilaku burung merpati.

Kedua jenis drone tersebut diciptakan untuk dilakukan uji simulasi, sebagaimana dilansir Wall Street Journal, Sabtu (24/1/2026)

Dalam uji simulasi lima lawan lima, drone elang berhasil menghancurkan seluruh drone merpati hanya dalam waktu 5,3 detik.

Riset itu mengantarkan para peneliti di China memperoleh paten pada April 2024. Paten itu juga menjadi salah satu dari ratusan paten yang dalam beberapa tahun terakhir diberikan kepada perusahaan pertahanan dan universitas China yang berafiliasi dengan militer.

Perkembangan tersebut mencerminkan intensitas persaingan Amerika Serikat (AS) dan China dalam pemanfaatan kecerdasan buatan di sektor militer, yang kerap disebut sebagai perang dingin akal imitasi (AI).

Perang dingin AI

Dalam kompetisi itu, penerapan AI untuk kebutuhan militer menjadi salah satu bidang paling agresif sekaligus paling berisiko karena mendorong penyerahan peran tempur yang semakin besar kepada mesin.

Dokumen paten, tender pengadaan pemerintah, dan makalah riset yang ditelaah The Wall Street Journal menunjukkan, Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) sangat fokus mengembangkan AI untuk mengoperasikan drone swarm (kelompok drone kecil terkoordinasi), robot anjing, dan sistem otonom lainnya.

Tujuan utamanya adalah menciptakan kemampuan menyerang atau bertahan secara masif dengan intervensi manusia seminimal mungkin.

Sejumlah teoritikus militer China menulis pada Oktober 2024 bahwa era AI akan melahirkan pola peperangan baru yang digerakkan oleh algoritma.

"Dengan sistem tak berawak sebagai kekuatan tempur utama dan operasi swarm sebagai mode pertempuran dominan," tulis mereka.

Mereka menyamakan potensi AI dengan mesiu, teknologi yang ditemukan di China tetapi diyakini lebih efektif dimanfaatkan pihak lain dalam sejarah militer.

Drone telah membuktikan peran sentralnya di medan perang Ukraina, tempat strategi dan teknologi berkembang pesat akibat tekanan konflik nyata.

Drone swarm dapat difungsikan sebagai umpan untuk menguras amunisi musuh, alat pengintaian, hingga senjata bunuh diri yang menghancurkan pasukan dan kendaraan tempur lawan.

Penggabungan AI dengan robot memberi keuntungan besar bagi China karena industri manufakturnya mampu memproduksi lebih dari satu juta drone murah setiap tahun.

AS dengan rantai pasok teknologi yang lebih lemah, hanya mampu memproduksi puluhan ribu drone dengan harga jauh lebih mahal.

Keunggulan itu dipamerkan media pemerintah China pada 2024 melalui sistem Swarm 1, peluncur berbasis truk yang mampu menembakkan hingga 48 drone sayap tetap sekaligus.

Beberapa truk disebut dapat meluncurkan hingga 200 drone yang dapat terpecah dan menjalankan misi terkoordinasi seperti pengintaian, serangan, dan penipuan.

Drone induk Jiutian yang dirancang membawa dan melepaskan swarm drone kecil juga menyelesaikan uji terbang perdana pada Desember, menurut media pemerintah.

PLA sebelumnya menampilkan “serigala robot”, versi bersenjata dari robot anjing, dalam parade militer pada September 2025.

Produsennya, China South Industries Group, mengatakan bahwa pihaknya tengah mengembangkan integrasi antara kawanan serigala robot dan drone udara untuk menciptakan model baru pertempuran kolaboratif yang efisien.

Kecerdasan swarm juga dipandang sebagai solusi atas kekhawatiran lama PLA terhadap kemampuan prajurit dan komandan lapangan yang belum berpengalaman perang sejak akhir 1970-an.

"Pada level taktis, terdapat konsensus yang berkembang dalam tulisan militer China bahwa sistem otonom berpotensi bekerja lebih baik dibanding manusia," kata Sunny Cheung, pakar intelijen sumber terbuka dari Jamestown Foundation.

Kementerian Pertahanan China tidak menanggapi permintaan komentar terkait pengembangan tersebut.

Pendekatan ini tetap menyimpan risiko, mulai dari kegagalan teknologi di medan perang hingga keputusan mematikan yang diambil AI di luar kendali manusia.

Belajar dari Perang Ukraina 

Dalam perang Ukraina, ada kejadian gangguan sinyal hingga menyulitkan kendali jarak jauh terhadap drone termpur.

Hal tersebut memperkuat keyakinan PLA terhadap pentingnya drone yang mampu bertindak mandiri, menurut Cheung dan analis militer lainnya.

Militer di berbagai negara juga tertarik memanfaatkan AI canggih untuk logistik, analisis medan tempur, dan pertempuran, meski penerapan nyatanya masih terbatas dan tertutup.

Tender pengadaan militer China memberikan gambaran arah pengembangan tersebut, termasuk sistem perang kognitif bergerak berbasis AI yang mampu membuat video deepfake dan memproyeksikannya ke bangunan publik menggunakan laser.

Tender yang sama juga mencantumkan permintaan robot anjing, drone pengintai, serta sistem intervensi kesadaran berbasis suara dengan tingkat desibel mendekati ambang pecah gendang telinga.

"Dokumen itu terasa seperti mimpi demam ambisi AI militer China," kata peneliti CSET Sam Bresnick.

Bresnick menegaskan bahwa tender tidak selalu berarti sistem tersebut benar-benar akan dimiliki PLA, tetapi menunjukkan minat teknologi Beijing.

Persaingan pengembangan drone swarm antara AS dan China telah berlangsung setidaknya satu dekade, sejak uji kendali 50 drone oleh satu pilot di AS pada 2015.

China memecahkan rekor tersebut setahun kemudian, dan pola saling salip berlanjut hingga 2017.

Demonstrasi awal masih sederhana, sebelum kemudian teknologi berkembang pesat seiring pengalaman tempur nyata di Ukraina dan Gaza.

Drone kini lebih cepat, lincah, dan mampu melacak serta menghancurkan target secara mandiri.

Lonjakan riset kecerdasan drone menghasilkan berbagai algoritma baru yang terinspirasi perilaku kelompok hewan seperti semut, domba, coyote, dan paus.

Tantangan utamanya terletak pada penerapan algoritma tersebut di drone nyata dalam kondisi medan perang sesungguhnya.

"Kami belum memiliki persepsi yang cukup baik agar kendaraan ini tahu posisi satu sama lain," kata Justin Bradley, pakar sistem otonom dari North Carolina State University.

Dia menjelaskan bahwa ketergantungan pada komunikasi radio membuat sistem rentan terhadap perang elektronik.

AI lanjutan dapat mengurangi kerentanan itu, tetapi membutuhkan data pelatihan besar dan integrasi kompleks dengan sistem kendali buatan manusia.

"Tidak bisa sekadar menambahkan sistem sendiri dan berharap semuanya menjadi kokoh," kata Bradley.

Riset-riset yang dilakukan China dinilai sebagai kemajuan kecil, tetapi mencerminkan fokus praktis Beijing dalam mewujudkan pertempuran swarm.

"China sangat serius mengembangkan algoritma untuk menang dalam skenario taktis tertentu," ujar Bradley.

Sejak awal 2022, kontraktor pertahanan dan institusi terkait militer China menerbitkan sedikitnya 930 paten terkait kecerdasan swarm.

Dalam periode yang sama, hanya sekitar 60 paten serupa dipublikasikan di AS, dengan sebagian di antaranya diajukan entitas China.

Perbedaan ini mencerminkan penekanan China pada swarm drone, sejalan dengan dominasinya atas lebih dari 80 persen produksi drone kecil dunia.

"China sangat fokus pada cara mengerahkan banyak drone kecil yang cerdas karena itu sumber daya yang mereka miliki," kata Stacie Pettyjohn dari Center for a New American Security.

Ketertinggalan

Dominasi rantai pasok tersebut menyulitkan AS membangun arsenal drone murah tanpa bergantung pada komponen China.

Pentagon berupaya mengejar ketertinggalan dengan meluncurkan drone kamikaze atau drone bunuh diri jarak jauh seharga 35.000 dollar AS.

Perusahaan Barat seperti Auterion dan Anduril Industries juga menguji teknologi swarm, meski hasilnya masih terbatas.

AS cenderung memprioritaskan otonomi drone individual yang bekerja bersama manusia, sejalan dengan doktrin tempur terdesentralisasi.

Di China, ketertarikan pada robot otonom juga dipicu ketidakpercayaan terhadap komandan lapangan, yang oleh Presiden China Xi Jinping disebut memiliki lima ketidakmampuan.

Struktur komando yang sangat terpusat membuat AI menarik sebagai alat pengendali operasi dari pusat.

Salah satu skenario penggunaan drone swarm China diperkirakan muncul dalam konflik Taiwan, dengan swarm dikerahkan untuk memburu pertahanan udara setelah serangan awal.

"Situasi itu dapat menciptakan kepadatan daya tembak yang terus memindai target dan menyulitkan pertahanan Taiwan," kata Pettyjohn.

Dokumen riset dan tender China juga menunjukkan minat kuat pada teknologi anti-swarm.

Kekhawatiran global muncul terkait keputusan mematikan AI yang sulit dijelaskan, termasuk potensi penyalahgunaan tanggung jawab.

"Algoritma bisa menjadi alasan rasional untuk menghindari tanggung jawab ketika sistem AI menimbulkan bahaya," tulis Zhu Qichao dari National Defense University China.

Sejumlah pihak menyerukan aturan global pembatasan penggunaan AI dalam perang, meski penerapannya masih jauh dari kata sepakat.

Kolonel purnawirawan PLA Zhou Bo menilai, China dan AS ingin memahami sepenuhnya dampak AI di medan tempur sebelum menyetujui pembatasan apa pun.

"Aplikasi militer AI berkembang pesat, sementara konsekuensinya belum sepenuhnya terungkap," kata Zhou.

Post a Comment

0Comments

Berkomentarlah dengan bijak, bagi yang memberikan link aktif akan langsung hapus. Terima Kasih

Post a Comment (0)