Geopolitik Dunia dan Tantangan Energi Nasional Indonesia

Erlita Irmania
0
Geopolitik Dunia dan Tantangan Energi Nasional Indonesia

Peran Selat Hormuz dalam Stabilitas Pasokan Minyak Global

Selat Hormuz merupakan jalur laut yang sangat penting bagi perdagangan minyak global. Dengan lebar hanya sekitar 33 km, selat ini menjadi jalur pelayaran utama bagi sebagian besar pasokan minyak dari Teluk Persia ke pasar internasional. Setiap hari, sebanyak 20-21 juta barel minyak melewati selat ini, yang setara dengan sekitar 20 persen dari total perdagangan minyak dunia.

Secara normatif, selat ini dianggap sebagai selat internasional yang memungkinkan kebebasan navigasi. Namun, secara praktis, Iran memiliki kendali dominan atas alur navigasi tersebut. Negara-negara Timur Tengah yang kaya akan sumber daya minyak, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Irak, dan Qatar, sangat bergantung pada jalur ini untuk menjaga pasokan energi mereka.

Konflik regional yang terjadi antara Israel dan Iran telah memicu ketidakstabilan di wilayah ini. Pada 28 Februari 2026, serangan militer AS dan Israel terhadap Iran menyebabkan kematian pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dan sejumlah pejabat militer. Akibatnya, Iran merespons dengan menyerang basis militer AS di Dubai, Bahrain, dan Saudi Arabia. Konflik ini berdampak langsung pada stabilitas jalur pasokan minyak, termasuk selat Hormuz.

Pada saat konflik berlangsung, Iran memberikan peringatan melalui radio VHF bahwa akses kapal di Selat Hormuz akan ditutup. Hingga 3 Maret, tidak ada kapal tanker minyak yang melewati selat ini, dan kondisi ini diperkirakan akan berlangsung beberapa waktu ke depan. Hal ini dapat menyebabkan kelangkaan pasokan minyak global dan kenaikan harga secara drastis.

Dampak Gangguan Pasokan Minyak terhadap Indonesia

Gangguan stabilitas keamanan di jalur perdagangan minyak seperti Selat Hormuz berdampak langsung terhadap Indonesia. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa pasokan minyak dalam negeri hanya mampu bertahan selama 20 hari jika impor dihentikan. Hal ini disebabkan oleh ketergantungan tinggi Indonesia terhadap impor minyak.

Konsumsi minyak Indonesia mencapai 505-532 juta barel per tahun, dengan sekitar 50-60 persen berasal dari impor. Singapura menjadi tujuan utama impor minyak Indonesia, dengan persentase mencapai 54 persen sepanjang tahun 2025. Minyak bumi digunakan sebagian besar untuk BBM dan pembangkitan energi, dengan kontribusi sebesar 28 persen dari bauran energi nasional.

Ketidakstabilan pasokan minyak berpotensi menyebabkan kurangnya pasokan BBM dan gangguan stabilitas listrik, yang dapat memicu inflasi. Untuk mengantisipasi skenario ini, Indonesia perlu meningkatkan kemandirian energi.

Swasembada Energi dengan EBT

Pemerintahan Prabowo-Gibran telah menetapkan program swasembada energi sebagai bagian dari Asta Cita, visi menuju Indonesia Emas 2045. Target ambisius dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN) dan Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) adalah penurunan penggunaan batu bara dan minyak secara bertahap, serta peningkatan penggunaan gas alam dan energi terbarukan (EBT).

Dalam rencana ini, EBT ditargetkan mencapai 19-23 persen pada 2025-2030, meningkat menjadi 36-40 persen pada 2040, 53-55 persen pada 2050, dan 70-72 persen pada 2060. Nuklir juga diproyeksikan menjadi bagian dari bauran energi pada 2032, dengan pembangunan PLTN pertama di Bangka Belitung.

Nuklir sebagai Solusi Swasembada Energi

Indonesia memiliki potensi cadangan uranium dan thorium yang cukup besar, yaitu 81.090 ton uranium dan 140.411 ton thorium. Ketersediaan bahan bakar nuklir ini menjadikan nuklir sebagai pilihan strategis untuk swasembada energi.

Teknologi PLTN yang digunakan saat ini, seperti generasi II (PWR dan BWR), umumnya menggunakan uranium sebagai bahan bakar utama. Teknologi generasi III dan III+ menawarkan peningkatan keselamatan dan efisiensi. Sementara itu, teknologi generasi IV masih dalam tahap pengembangan dan berpotensi menggunakan thorium sebagai bahan bakar alternatif.

Belajar dari Selat Hormuz

Gangguan jalur minyak akibat konflik di Selat Hormuz memberikan pelajaran penting bagi Indonesia. Kemandirian energi menjadi syarat mutlak untuk bertahan dari dinamika global yang tidak stabil. Jalur-jalur strategis seperti Selat Hormuz, Terusan Suez, Laut China Selatan, Selat Malaka, dan Selat Taiwan menjadi area konflik yang berpotensi mengganggu pasokan energi.

Untuk membangun stabilitas energi, Indonesia perlu mengandalkan pasokan dalam negeri. Produksi batu bara yang menurun dan belum siapnya industri ekstraksi gas alam memerlukan sumber energi alternatif yang handal dan bersih. Nuklir menjadi pilihan untuk membantu melepaskan Indonesia dari ketergantungan impor energi di masa depan.



Post a Comment

0Comments

Berkomentarlah dengan bijak, bagi yang memberikan link aktif akan langsung hapus. Terima Kasih

Post a Comment (0)